Kutim Dulu Memiliki Dua Kota Hantu

Wakil Bupati Ardiansyah Sulaiman (tengah) didampingi Ketua STAIS Kutim memberikan kenangan-kenangan berupa plakat kepada Guru Besar Unair Surabaya Prof Suroso. (RONALL/HUMAS)
Wakil Bupati Ardiansyah Sulaiman (tengah) didampingi Ketua STAIS Kutim memberikan kenangan-kenangan berupa plakat kepada Guru Besar Unair Surabaya Prof Suroso. (RONALL/HUMAS)

Wartakutim.com | SANGATTA ; Dalam rangka menyambut mahasiswa-mahasiswi Tahun Akademik 2013/2014, Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta (STAIS) Kutai Timur menggelar Studium Generale yang bertemakan Membumikan Ekonomi Syariah di Kutai Timur.

Kegiatan ini diikuti oleh 1000 orang lebih peserta ini berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) Kompleks Perkantoran Bukit Pelangi pada Selasa (1/10) kemarin. dan dihadiri menghadirkan Guru Besar Fakultas Ekonomi & Bisnis Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yakni Prof. DR. H. Suroso Imam Zadjuli, SE sebagai pembicara utama. Hadir dalam kesempatan itu Ketua STAIS Sangatta Prof. DR. Hj. Siti Muri’ah.

Wakil Bupati Ardiansyah Sulaiman yang dalam kesempatan itu menyebutkan bahwa dunia pendidikan menjadi modal utama yang dilirik oleh Pemkab Kutim. Karena dengan pendidikan maka visi Kutim yang bertumpu pada Agribisnis yang menuju pada Kutim mandiri dapat terlaksana.

“Visi ini harus menjadi dasar utama, sehingga pada seluruh mahasiswa kita tegaskan bahwa pembangunan kita adalah bertumpu pada agribisnis untuk menuju Kutim mandiri.”Ujar Ardiansyah dalam Sambutannya

Ardianyah menyebutkan Ada dua kata kunci dalam visi Kutim, pertama adalah agribisnis dan yang kedua adalah mandiri. “Alhamdulillah dengan proses pembangunan sejak Kutim berdiri, kita sudah hampir mencapai target yang kita inginkan” Katanya.

Lebih jauh mantan Anggota DPRD Ini mengatakan Memanfaatkan potensi alam yang bisa diperbaharui. Kita tidak lagi bertumpu pada pemanfaatan SDA yang tidak diperbaharui seperti minyak dan batubara.

“Walau kontribusinya masih besar, akan tetapi apakah itu batubara atau minyak. Pada saatnya nanti dia tidak bisa lagi memberikan kontribusi pada pembangunan bahkan juga masyarakat.”Tandasnya.

“Kita pernah men dengar di Kaltim ada 2 buah kecamatan yang menjadi kota hantu, yakni Sanga-Sanga dan Loa Kulu.”Tambahnya

Dua kecamatan tersebut kata Ardiansyah  menghasilkan minyak, namun kini menjadi kota hantu alias mati karena tidak ada lagi minyak yang dapat di produksi.

“Alhamdulillah sekarang sudah mulai bergerak kembali. Sehingga kita tidak hendak seperti itu, maka sejak Kutim terbentuk kita sepakat untuk mengembangkan SDA yang dapat diperbaharui, maka perkebunan dan pertanian dalam arti luas menjadi andalan utama kita di masa mendatang,” terang Wakil Bupati. (kmf3/Imran/ronal)