Ragam  

Larangan Berbaju Merah atau Putih di Air Terjun Silaklak

    RELAKSASI : Para pengunjung Air Terjun Silaklak akan menikmati kesegaran udara di alam yang asri dan segarnya air jernih di lubuk berukuran sekitar 15x20 meter. DEESELHA/KABAR TAPANULI.com
RELAKSASI : Para pengunjung Air Terjun Silaklak akan menikmati kesegaran udara di alam yang asri dan segarnya air jernih di lubuk berukuran sekitar 15×20 meter. DEESELHA/KABAR TAPANULI.com

Antara Mitos dan Keindahan Alam Tor Simaklanang

Oleh : Sonny Lee Hutagalung

“Molo marbaju na rara manang na bontar, ikkon gabe marsahit ma (Kalau pakai baju warna merah atau putih, pasti jadi sakit lah),” celetuk Mansyur Simanjuntak di kedai kopi tepi Jalan Sibolga-Barus, Desa Unte Mungkur III Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Jumat 16/5 sore.

“Tapi sekarang tidak lagi,” imbuh pria berusia 65 tahun ini. Mengenakan setelan kemeja sewarna, pria ini kembali berkisah soal Air Terjun Silaklak, yang dalam bahasa setempat disebut Sampuran. Di kedai yang sore hingga malam hari juga menyediakan Tuak itu, duduk enam warga kampung yang lebih dikenal dengan nama Purba Tua. Mereka dengan semangat mengisahkan sedikit dari sekian banyak cerita tentang Sampuran Silaklak.

Mansyur berkisah, dari air terjun yang berjarak sekitar 750 meter dari tepi jalan raya, bisa menatap seluruh wilayah Purba Tua. “Makanya kalau ada yang berbaju merah atau putih lewat saja di jalan ini (jalan raya Sibolga-Barus yang dulu hanya jalan kecil dan sekarang beraspal mulus), pasti akan sakit. Apalagi kalau pergi ke Silaklak, pulang dari sana pasti sakit. Alai saonari dang songoni be (Tapi sekarang tidak seperti itu lagi),” kata pria yang lahir dan besar di Purba Tua.

Masih kata Mansyur, sejak jaman Belanda menjajah Indonesia, air di Silaklak hendak dibendung. Penyebabnya, ada emas tersembunyi di bawah batu besar dalam lubuk Silaklak. “Pernah ada tambang mas di jaman Belanda. Airnya mau dibendung untuk ambil emas yang katanya sebesar kepala kerbau,” katanya.

Isa Simatupang yang usianya setengah dari Mansyur, bercerita tentang sebuah pohon beringin besar yang tidak ada lagi bekasnya. Pohon itu tadinya berdiri dekat jatuhan air Silaklak. Suatu waktu, seorang bermarga Simanullang mendekat dan berbicara dengan pohon itu. Meminta ‘penghuni’ beringin agar pergi. Karena Manullang dan kerabatnya hendak berladang dan bermukim di sana.

Kemudian Manullang menebas beringin dengan parang seraya berkata, “pergi kalian, kami mau buka ladang disini.” Esok harinya, pohon besar dan angker itu malah hilang sama sekali dari pandangan. “Na jolo adong ma Hariara disan (dulu ada lah pohon beringin disana), songe hian (angker sekali),” ujarnya.

Isa mengaku kisah tersebut telah turun temurun dituturkan kepada putra dan putri Purba Tua. Setiap wisatawan yang datang dan bertanya kisah di balik Silaklak, cerita yang sama dibagikan. “Dulu sering ada Turis (wisatawan mancanegara) datang ke Silaklak,” ungkapnya.

Menuju Sampuran Silaklak, tidak sulit. Karena dari Kota Sibolga hanya berjarak 14 kilometer atau 10 menit perjalanan dengan akses jalan aspal tergolong bagus. Tiba di Desa Unte Mungkur III, bisa menumpang parkir kendaraan di rumah-rumah warga. Kemudian berjalan kaki sekitar 100 meter hingga mendapati tangga semen di jalan selebar 1,5 meter. Berjalan mendaki sekitar 40 meter, tangga pun habis.

“Sudah lama tangganya hilang digerus air, karena tidak ada parit di bagian tebing,” ungkap Karnadi Simanjuntak. Pria berusia 42 tahun dan pemilik kedai kopi ini berharap ada upaya perbaikan jalan dari Pemerintah Kabupaten Tapteng. “Bisa diperlebar jalannya di bagian tebing agar bisa membuat parit.”

Perjalanan berlanjut mendaki jalan tanah yang tergerus air hingga membentuk parit besar dengan kemiringan sekitar 35 derajat. Sekitar 40 meter, jalan semakin mendaki hingga mencapai kemiringan 55 derajat. Hampir 150 meter mendaki, lutut pun terasa hendak copot. Wajib beristirahat. “Aku ganti perseneling dulu ke gigi satu,” kelakar Parulian Sihombing, personel Kabar Tapanuli.com yang mengaku kali ke dua menginjakkan kaki di Silaklak.

Lutut terasa ringan, perjalanan berlanjut kembali. Namun jalan mendaki tidak lagi tinggi. Sejauh 170 meter, tiba di jalan datar sekitar 50 meter panjangnya. Lalu berjalan lagi dengan kemiringan sekitar 35 derajat sejauh tidak lebih dari 200 meter. Hawa dingin menyegarkan terasa begitu tiba di Silaklak. Pemandangan alam liar dengan batu-batu besar berdiri kokoh di tepi lubuk Silaklak.

Air terjun Silaklak sudah tidak seperti sekitar 5 atau 10 tahun lalu. Jatuhan setinggi sekitar 75 meter itu, debit airnya tidak lagi sama. Meskipun hujan sedang ‘rajin’ turun di Bumi Tapteng. “Sudah banyak lahan hutan yang gundul di seputar Silaklak, jadi debit air berkurang drastis,” kata Karnadi Simanjuntak lagi.

Panorama indah membuat siapa saja yang tiba di sana seakan tidak pernah puas memandangi alam Silaklak. Batu-batu berlumut dengan rimbun rumput liar khas rimba, menambah eksotisme Silaklak. Terlebih saat menceburkan diri di lubuk berair jernih dan dingin itu. Habis bersantap siang, bisa langsung minum air segar itu. “Tidak perlu bawa air minum lagi, air disini pun enak diminum,” kata Bangun Tanjung, warga Kelurahan Huta Tonga-tonga, Sibolga Julu, Kota Sibolga.

“Saat hari libur banyak pengunjung datang, apalagi saat hari Lebaran,” tukas Mansyur Simanjuntak lagi. Ia mengungkapkan, pengunjung tidak lagi ditarik uang masuk Silaklak. “Dulu bayar Rp 1.000 per orang dengan ditukar karcis masuk.”

Karnadi Simanjuntak menambahkan, bukan Silaklak saja air terjun yang ada di Tor (perbukitan) Simaklanang. Dia yang pernah menjelajahi rimba perbukitan di bagian atas kampung mereka itu, menyebut masih ada 7 lokasi air terjun. Sehingga dikenal dengan nama Sampuran Sipitu-pitu (Pitu dalam bahasa batak berarti Tujuh).

Adong dope pitu nai sampuran di jonok Silaklak (masih ada tujuh air terjun dekat Silaklak),” ujar Karnadi. Masih kata dia, sekitar 8 kilometer mengikuti air Silaklak, tibalah di sungai Aek Raisan yang di hulunya adalah Kecamatan Sitahuis dan di bagian hilir adalah Kecamatan Kolang. (*)

Sumber :Kabartapanulli.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.