Gelombang Mutasi Kembali Bergulir Di Pemkab Kutim

Wakil Bupati Ardiansyah memberikan ucapan selamat kepada para pejabat esselon III dan IV dilingkungan pemerintah kabupaten Kutim.
Wakil Bupati Ardiansyah memberikan ucapan selamat kepada para pejabat esselon III dan IV dilingkungan pemerintah kabupaten Kutim.
Wakil Bupati Ardiansyah memberikan ucapan selamat kepada para pejabat esselon III dan IV dilingkungan pemerintah kabupaten Kutim.

Sangatta, WARTAKUTIM.com – Gelombang mutasi dan promosi jabatan kembali bergulir di jajaran pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur. Sebanyak 200 Pejabat Esselon III dan IV Dilantik Wabup di aula Meranti Setkab Kutim, Siang Kemarin.

Wakil Bupati Ardiansyah Sulaiman memimpin langsung acara pelantikkan tersebut, yang mana didampingi oleh Asisten I Tata Praja Syafruddin, Asisten II Ekonomi dan Pembangunan Rupiansyah, Asisten III Administrasi Umum Edward Azran, dan Asisten IV Kesejahteraan Rakyat Mugeni.

Pejabat esselon III dan IV yang dilantik sebanyak 200 orang, dari jumlah tersebut terdapat puluhan orang pejabat yang hanya tinggal melakukan pengukuhan saja. kegiatan ini dimaksudkan untuk penyegaran pada masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terutama dalam peningkatan efektifitas pekerjaan dan pelayanan pada masyarakat.

“Kepada para pejabat yang dilantik saya berharap dapat melakukan tugas dengan baik dan sesuai aturan berlaku. Tolong kemudian diingat bagaimana aturan 10 prinsip tata pemerintahan yang baik, sebagaimana selama ini menjadi acuan para pegawai negeri sipil. Setiap jabatan di SKPD maupun dilingkungan Setkab Kutim selalu terjadi pergantian, hal ini adalah wajar dengan maksud untuk melakukan penyegaran sejaligus agar tidak ada PNS yang mentok kariernya pada satu jabatan semata. Ini merupakan pertimbangan terbaik dan maksimal yang dilakukan oleh tim Baperjakat,” jelas Wakil Bupati.

Perlu diketahui bahwa setiap pergantian pejabat sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kajian yang matang, melalui Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan, Red) dimana berlangsung tanpa unsur suka atau tidak suka, namun pada prinsip profesionalitas. Sehingga hal ini menjadi pijakkan jelas dengan komitmen untuk mengemban amanah, mampu melaksanakan tugas dengan baik dan profesional, serta dengan niat ibadah yang sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing individu.