oleh

Optimalisasi BUMDes Jadi Kajian Menarik Balitbang Kutim

-Berita Pilihan, Ekonomi-Dibaca : 172 Kali

SANGATTA – Kutai Timur memiliki 1,3 juta hektar lahan potensial yang cocok dan siap dikembangkan untuk komoditas pertanian bernilai tinggi berbasis agribisinis. Komoditas kelapa sawit, coklat, aren genjah, lada, nanas, hingga hasil laut seperti udang dan ikan, ternyata memiliki prospek pasar internasional yang baik untuk daerah ini.

Namun hal tersebut belum ditunjang dengan optimalisasi kemampuan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) saat ini, yang masih menghadapi persoalan kapasitas administrasi dan akuntabilitas organisasi yang rendah. Belum lagi persoalan terkait kapasitas manajemen, tata kelola dan kultur kewirausahaan yang masih mengandalkan bantuan.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kutim Ir. H. Zubair, M.T mengungkapkan bahwa metode penelitian terkait optimalisasi BUMDes dilakukan dalam dua tahapan. Pertama melalui studi dokumentasi, wawancara dan diskusi kelompok terkait situasi global dan lokal, serta kondisi faktual kapasitas BUMDes. Metode kedua dengan melakukan analisis strategi model pengembangan optmalisasi BUMDes di Kutim dengan pendekatan analasis SWOT.

“Rekomendasi yang dikeluarkan dalam kajian untuk mengoptimalkannya ialah melalui grand strategy eksternal, yakni membangun Brand BUMDesa melalui penguatan praktek daya saing di tingkat lokal, nasional, dan global. Untuk membangun daya tarik BUMDes baik pada sisi ekonomi, sosial dan lingkungan,” terang lelaki yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Bappeda Kutim.

Balitbang Kutim telah banyak mengeluarkan kaian terkait penelitian dan pengembangan untuk mensupport pembangunan di daerah.

Lebih jauh untuk grand strategy internal, selain peningkatan capacity building, perlu dibuat aplikasi yang memudahkan perilaku usaha BUMDes dalam mengoptimalkan usaha. Pihak Balitbang menyadari benar perihal ini, terlebih dari 135 BUMDes yang terdaftar di BPMPD tahun 2018 lalu. Hanya 45 BUMDes yang aktif beroperasi, itupun yang aktif sebagian besar rawan mati alias tutup usaha.

“Harus ada brand, mengingat ada kompetitor. Bagaimana meningkatkan brand dari BUMDes? Semisal dengan mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terkait merk dagang dan sebagainya. Pengembangan aplikasi modul baik manual dan elektronik yang dikelola pengurus BUMDes. Selain itu strategi kemitraan baik dengan pihak pemerintah maupun swasta alias perusahaan,” ungkap Zubair.

Perusahaan besar adalah salah-satu peluang dalam pemasaran produk BUMDes, mulai dari penyediaan pangan dalam bentuk makanan, hasil pertanian berupa buah-buahan. Sehingga produk lokal garapan masyarakat dapat diberdayakan dengan sinergisitas semacam ini.

“Itu adalah sedikit dari strategi yang kita hadirkan, dari stategi-strategi lainnya yang dikeluarkan melalui Kajian Optimalisasi BUMDes yang dikeluarkan Balitbang. Terkait pelatihan, pengembangan, pembuatan MoU atau nota kesepahaman, perjanjian kerjasama, pengelolaan produk, juga termasuk dalam support dari kajian yang ada” terang lelaki bertubuh ramping ini. (Arso)