oleh

Erau Adat Kesultanan Kutai Kertanegara ing Martadipura

TENGGARONG – Pembukaan Erau Adat Kesultanan Kutai Kertanegara ing Martadipura & Tenggarong Internasional Folks Art Festival (TIFAF) VII, berlangsung pada Minggu (8/9) pada pukul 10.00 Wita, didepan Teras Keraton atau yang lebih dikenal sekarang sebagai Museum Mulawarman Tenggarong.

Bupati Ismunandar atau yang bergelar Pangeran Surya Praja disambut hangat oleh Sultan Kutai XII Aji Muhammad Arifin, dalam acara pembukaan yang berlangsung dengan penuh hikmat tersebut. Terlebih sebelumnya Sultan Kutai pada 28/8 lalu, hadir ke Kutai Timur dalam rangka pengukuhan Datasemen Remaong Koetai (DRK) di Gedung Serba Guna (GSG) Bukit Pelangi.

Pangeran Surya Praja menyebutkan bahwa Erau Adat Kesultanan Kutai selalu menjadi inspirasi bagi masyarakat Kutai yang dulunya masuk dalam wilayah Kesultanan, termasuk masyarakat Kutai Timur. Sehingga alur sejarah tersebut dikemas dengan apik pada saat ini, yang berkontribusi besar pada pengembangan sektor pariwisata. Dimana adat istiadat Kutai tidak saja dikenal oleh mayarakat Indonesia, namun juga dunia.

“Ada benang merah sejarah yang panjang antara Kutai Kartanegara dan Kutai Timur, ikatan tali persaudaraan yang dibangun sebelum Indonesia berdiri dalam sebuah Kesultanan. Terlebih sebelum dimekarkan menjadi Kutim, kita pernah bergabung dalam satu wilayah bernama Daerah Tingkat (DATI) II Kutai. Yang terpenting lagi adalah bagaimana warisan budaya yang memiliki nilai-nilai luhur senantiasa terjaga kelestariannya,” ungkap Pangeran Surya Praja.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Isran Noor mengajak seluruh masyarakat Kalimantan Timur, agar menyukseskan Erau Adat. Mengingat hal ini merupakan sebuah momentum besar bagi kebangkitan dan kemajuan dunia pariwisata di daerah. Bahkan dirinya mengapresiasi setinggi-tingginya pada Sultan Kutai XII yang bergelar Sultan Aji Muhammad Arifin beserta kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, serta seniman dan budayawan yang tetap setia melestarikan seni budaya di tanah Kutai.

“Merupakan kewajiban kita bersama untuk mewariskan nilai-nilai seni budaya pada generasi saat ini, sehingga dapat terus terjaga, diterima, dan dihargai oleh bangsa sendiri maupun juga bangsa-bangsa lain di dunia,” tegas Isran Noor.

Perlu diketahui, Erau Adat Kesultanan Kutai berlangsung dari tangga 8 – 15 September 2019. Adapun pelaksanaan Tenggarong Internasional Folks Art Festival (TIFAF) dimulai dari tanggal 21 – 29 September 2019, yang mana akan diawali dengan pelaksanaan Kirab Budaya Internasional dan dipusatkan dihalaman parkir Stadion Rondong Demang. Untuk tahun ini ada 7 delegasi kesenian dari beberapa negara yang mengikuti, antara lain Srilanka, Thailand, Rumania, Rusia, Timor Leste, Peru, hingga Belanda. (Arso)