oleh

OPINI : Corona Membara di Amerika

Amerika dan Negara maju Eropa. Berlomba lomba dalam jumlah penderitanya, yaitu Italia, Spanyol dan Perancis. Sekitar 3.000 jiwa meninggal di Tiongkok. Itu terjadi lebih dari 2 bulan. Di Amerika setiap 3 hari sudah bisa tercapai angka itu.

Bila sebulan atau dua bulan saja, ini terus berlanjut. Dengan pertumbuhan fantastiknya. Korbannya bisa sekitar 60.000 jiwa. Khusus di Amerika. Itu lebih banyak daripada korban tentara Amerika. Saat perang di Vietnam. Perang Vietnam berlangsung 19 tahun. Dan perang dengan Corona baru berjalan 3 bulan.

Sadar akan digdaya, dampak dan bahayanya Corona. Presiden Amerika mulai merendahkan suaranya. Dia menelepon negara-negara pesaingnya, pada China pun Rusia. Bukan Eropa, negara negara sekutu NATO, mereka sama sama sedang menderita. Hebatnya, “musuhnya” bersedia membantunya. Bantuan masker, APD dan ventilator berdatangan. Dengan pesawat cargo berton-ton.

Mengapa, Amerika, yang uangnya tak ada batasnya. Negara adi daya. Industri dan teknologi nya luar biasa. Tidak berdaya menghadapi Corona dan bahkan harus minta bantuan dengan negara “musuh” nya ?

Sebab mereka meremehkannya. Tidak bersiap diri, baik warga dan industrinya. Asal muasal tidak ada persiapan itu adalah pernyataan Presidennya. Amerika itu demokrasi seperti kita. Demokrasi di mana-mana. Menciptakan kubu-kubuan, pro dan kontra. Melibatkan pendapat pejabat, perwakilan dan rakyat.

Ketika sang Presiden menyatakan secara terbuka, bahwa Corona itu biasa saja. Lebih berbahaya dari influenza. Maka rakyat yang pro dengannya, mati-matian membela. Otomatis mereka tidak waspada, termasuk aparatur, industri dan sistem Negara.

Industri Amerika. Tidak punya cukup waktu. Mempersiapkan kebutuhan. Masker, alat sanitasi, ventilator dan lainnya. Ini adalah dunia nyata, Ferguzo! Bukan dunia cerita. Seperti Bandung Bondowoso, yang dalam semalam bisa membangun apa yang di kehendaki.

Baca Juga  Ditunggu Penyelesaian Pelabuhan Sangatta! Stabilkan Harga Barang di Kutim

Demokrasi sungguh baik saat normal. Amerika, Eropa, dengan demokrasi, birokrasi dan sistemnya. Terbukti kurang efektif di saat saat darurat seperti ini, negara bagian dan pemerintah pusat, serta rakyatnya, sering tidak seirama.

Berbeda dengan China, pusat dari virus Corona. Dengan jumlah penduduk yang lebih banyak, terbukti berhasil mengendalikan rakyatnya. Dan menjinakkan penyebaran virus Corona. Tak dipungkiri, salah satu faktornya adalah sistem komando, tanpa kubu-kubu partai.

Syukurlah! Walau Indonesia, awal sikapnya dalam mengantisipasi Corona. Mirip dengan Amerika. Ternyata, lonjakan pasien dan kematian korban tidak seberapa. Bila di bandingkan Amerika yang 1 banding 100 untuk jumlah penderitanya.

Akankah, jumlah penderita Corona di Indonesia, meledak seperti di Amerika? Pendapat saya, iya. Bila banyak dari kita, meremehkan si Corona, serta tak ada ketegasan dan ketrengginasan pejabatnya. (Adv)

News Feed