Berita Pilihan

Penghentian Penuntutan Kasus Penggelapan melalui Restorative Justice di Kutai Timur

718
×

Penghentian Penuntutan Kasus Penggelapan melalui Restorative Justice di Kutai Timur

Sebarkan artikel ini

WARTAKUTIM.CO.ID,SANGATTA – Kejaksaan Negeri Kutai Timur menghentikan penuntutan terhadap lima tersangka dalam kasus dugaan penggelapan setelah kesepakatan damai dengan PT. Rimba Nusantara.

Lima orang tersangka, yaitu HP, OA, AC, PY, dan Er, yang terlibat dalam kasus dugaan tindak pidana penggelapan, telah sepakat untuk menempuh jalur damai dengan PT. Rimba Nusantara. Melalui proses mediasi yang difasilitasi oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kutai Timur (Kutim), kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk menyelesaikan perkara ini tanpa syarat.

Pelaksana Harian (PLh) Kejari Kutim, Sugih Carvallo, S.H., M.H., didampingi Kepala Seksi Tindak Pidana Umum, Bayu Fermady, S.H., M.H., menjelaskan bahwa sebelumnya berkas perkara para tersangka telah dinyatakan lengkap (P21) dan dilimpahkan kepada Kejari Kutim.

“Melalui mediasi final, telah ada kesepakatan dengan perusahaan yang diwakili oleh perwakilannya untuk memberikan maaf. Perkara tersebut juga telah disetujui oleh Kejaksaan Agung untuk dilakukan penghentian penuntutan berdasarkan Restorative Justice,” ujar Sugih Carvallo di hadapan para tersangka dan tokoh masyarakat.

Kasus penggelapan ini melibatkan lima pekerja asal Muara Bengkal, yang mengakibatkan PT. Rimba Nusantara mengalami kerugian sebesar Rp 6 juta. Dengan hati nurani dan dalam penegakan hukum, Kejari Kutim berhasil melakukan penghentian penuntutan kasus tindak pidana penggelapan melalui Restorative Justice (RJ). Proses ini berlangsung di Aula Kantor Kejari Kutim pada Rabu, 5 Juni 2024.

Penghentian penuntutan ini sekaligus menjadi pelajaran bagi para tersangka bahwa perbuatan melanggar hukum akan merugikan banyak orang. Namun, dengan adanya itikad baik dari para tersangka untuk tidak mengulangi perbuatan pidana, baik Kejaksaan dan tokoh masyarakat dapat menyampaikan alasan agar disetujui oleh Kejaksaan Agung untuk dilakukan Restorative Justice.

“Para pelaku baru pertama kali melakukan tindak pidana, dengan ancaman pidana di bawah 5 tahun. Dengan pertimbangan itu, Kejaksaan Agung memberikan persetujuan penghentian penuntutan berdasarkan Restorative Justice,” jelas Sugih.

Kepala Seksi Tindak Pidana Umum, Bayu Fermady, S.H., M.H., menuturkan bahwa kasus ini berawal dari PT. Rimba Nusantara yang menjadi vendor PT. Surya Hutani Jaya untuk melaksanakan pekerjaan pembangunan Hutan Tanaman Industri di lahan petak 48D zona 20, Desa Benua Baru, berdasarkan surat Perjanjian Kerja No: 005/SP/SRH-PRN/LKT/VIII/2023 pada 1 Agustus 2023 dengan jangka waktu sampai 31 Desember 2023.

“Pada Desember 2023, PT. Rimba Nusantara melaksanakan pekerjaan sesuai SOP dan SPK di lahan petak 48D zona 20 Desa Benua Baru, menggunakan tiga unit excavator merek Kobelco jenis SK 130 HD dengan memerintahkan operator excavator yaitu tersangka HP, OA, AC, serta pengawas lapangan yaitu tersangka PY dan Er,” lanjut Bayu Fermady.

Pada bulan Desember 2023, seorang warga meminta tolong kepada para tersangka untuk melakukan pembersihan lahan miliknya seluas dua hektar menggunakan excavator milik PT. Rimba Nusantara. Pekerjaan ini berlangsung selama dua hari tanpa laporan kepada manajemen perusahaan dan di luar surat perjanjian kerja.

Setelah pekerjaan selesai, para tersangka menerima upah sebesar Rp 4 juta yang kemudian dibagikan kepada para operator dan pengawas lapangan, dengan masing-masing operator menerima Rp 500 ribu dan pengawas menerima Rp 650 ribu per orang.

“Akibat perbuatan para tersangka, perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 6 juta, terdiri dari kerugian solar dan jam kerja operator,” ungkap Bayu Fermady.

Setelah dibebaskan, salah satu perwakilan mantan tersangka menyampaikan terima kasih kepada Kejaksaan Agung, Kejari Kutim, dan seluruh pihak terkait atas penghentian penuntutan berdasarkan Restorative Justice.

“Kami sangat menyesali apa yang telah kami perbuat. Perbuatan yang melanggar hukum ini telah membuat keluarga kami sedih, dan kami sangat menyesali perbuatan ini,” ucapnya sembari meneteskan air mata. (*/WAL)