Berita

Komoditas Pangan Jadi Pemicu Utama Inflasi di Kutai Timur

227
×

Komoditas Pangan Jadi Pemicu Utama Inflasi di Kutai Timur

Sebarkan artikel ini

SANGATTA – Tingginya harga sejumlah komoditas pangan pokok masih menjadi kontributor utama terhadap laju inflasi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim mencatat bahwa bahan pokok dan bahan penting (bapokting) adalah kelompok komoditas yang paling rentan terhadap gejolak harga di pasaran.

Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadani, merinci bahwa lima komoditas utama yang paling sering mengalami pergerakan harga signifikan adalah beras, cabai, bawang, ikan, dan daging. Menurutnya, volatilitas harga pada bahan-bahan ini sangat krusial dalam menentukan tren inflasi daerah.

Nora menjelaskan, pergerakan harga pada bahan pangan tersebut sangat sensitif terhadap dua faktor utama: kelancaran pasokan dan distribusi. Kenaikan harga kerap tak terhindarkan ketika distribusi terhambat, misalnya akibat kondisi cuaca ekstrem atau keterlambatan pengiriman suplai dari luar wilayah. Selain itu, peningkatan permintaan menjelang momen-momen tertentu, seperti hari besar keagamaan (Ramadan, Natal), juga memicu lonjakan harga.

“Ketika terjadi kendala pada pasokan atau distribusi barang masuk mengalami keterlambatan, harga pasti akan terkerek naik. Ini adalah situasi yang secara rutin kami cermati dan antisipasi bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID),” ungkapnya lebih lanjut.

Untuk mengatasi hal itu, Disperindag bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan berbagai langkah preventif, mulai dari pemantauan rutin di pasar, koordinasi dengan distributor, hingga intervensi harga melalui pasar murah. Program ini menjadi salah satu instrumen utama pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga.

Selain itu, Disperindag juga memperkuat komunikasi dengan pedagang di pasar tradisional agar tidak menimbun barang atau menaikkan harga secara tidak wajar. “Kami selalu ingatkan pedagang agar tetap berjualan secara wajar. Kalau ada lonjakan harga yang tidak masuk akal, kami akan turun langsung,” tegas Nora.

Ia menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen terus menjaga keseimbangan antara kepentingan pedagang, petani, dan masyarakat konsumen agar inflasi tetap terkendali hingga akhir tahun.