Puluhan Warga Menyerbu Tank Ampibi Milik Lanal Sangatta

Puluhan warga menaiki Tank Ampibi Yang akan memeriakan Hut Kutim Ke-14
Puluhan warga menaiki Tank Ampibi Yang akan memeriakan Hut Kutim Ke-14

Wartakutim.com | Sangatta ; Tank Ampibi milik Korps TNI Angkatan Laut (AL) melakukan Konvoi dari stadion utama Sangatta menuju Pasar induk Sangatta  Minggu (6/10/2013) siang .rencana Tank ampibi tersebut akan di ikutkan dalam Pekan Raya kutim Expo ke-2 untuk menyambut HUT Kutim ke 14 yang akan dibuka pada selasa 8 Oktober 2013 mendatang.

Saat melakukan Konvoi tank ini diserbu puluhan warga dari berbagai kalangan yang ingin merasakan langsung berada di atas tank yang pernah digunakan pada operasi Dwikora (1964-1965) masa orde lama.

Komandan Lanal Sangatta Letkol Laut (P) Sigit Santoso mengungkapkan Tank Ampibi merupakan jenis PT- 76, yang  nantinya akan dijadikan monumen dikawasan stadiun utama Sangatta yang saat ini masih tahap pembangunan.

“Selain Tank PT- 76, kami juga akan menampilkan di expo nanti, Tank panser Ampibi, Marian Howitzer dan beberapa alutista lainnya yang dimiliki TNI AL” Ujar Sigit, Minggu, (6/10)

“Bagi masyarakat yang ingin melihat lebih dekat bagaimana kondisi tank tank  serta perlengkapan yang dimili Lanal Sangatta silakan mengunjungi Stand Lanal di Pekan raya Kutim.”imbuhnya

Sigit juga perpesan kepada masyarakat Kutim yang hendak memeriahkan Hut Kutim ini dapat datang langsung pada disaat pembukaan EXPO ke-2 yang diadakan di Pasar induk Sangatta

Perlu diketahui Tank P-76   milik TNI AL dirancang pada tahun 1945- 1951 dan mulai aktif di TNI AL tahun 1962. Tank ampibi pabrikan Rusia ini memiliki bobot berat 14,6 ton dan panjang tank ini 7,63 meter yang dilengkapi dengan senjata sedangkan untuk panjang 6.91 meter tanpa memiliki senjata dan lebar 3.15 meter. Tinggi tank tersebut 2,325 meter, pengawak 3 orang. Persenjataan 76,22 mm

Sedangkan mesin tank ini mengunakan mesin 6 cyl disel dengan kapasitas bahan bakar 250 liter. Selama aktif di TNI AL tank ini telah terlibat dalam operasi Dwikora (1964-1965), Operasi seroja (1975-1979) dan pemulihan keamanan Nangroe Aceh Darusallam pada tahun 2002 hingga 2005