oleh

Sosialisasi “Pemberitaan Ramah Anak” PWI Kutim

SANGATTA – Kegiatan program sosialisasi “Pemberitaan Ramah Anak” oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kutai Timur, berlangsung pada Selasa (30/7) di kantor Kesbangpol Kutim. Bertindak sebagai pembicara wartawan senior Muhammad Syafranuddin serta Ketua PWI Cabang Kutim Joni Sapan Palelleng yang juga Kabiro Harian Samarinda Pos (Sapos).

Dalam pembahasan terkait pemberitaan ramah anak tersebut, terungkap banyak Undang-undang yang mengatur ketentuan mengenai perlindungan anak dalam ranah pemberitaan baik untuk media cetak, online, radio, hingga televisi. Belum lagi mengenai kode etik jurnalistik yang dipegang oleh semua organisasi wartawan dan jurnalis yang diakui di Indonesia.

Sehingga Ketua PWI Kutim Joni menekankan pada wartawan yang tergabung dalam PWI Perwakilan Kutim, diharapkan faham dan mengikuti aturan serta kaidah dalam penulisan, sesuai kode etik jurnalistik. MoU antara Dewan Pers dengan KPAI dalam pemberitaan ramah anak menjadi acuan penting dalam penerapan dilapangan.

“Jangan sampai wartawan yang bernaung di bawah organisasi profesi kewartawanan yang resmi, seperti ikut terjerat dan terjebak dengan menulis yang menjurus pada identitas anak di bawah umur secara detail, baik anak sebagai pelaku kriminal maupun sebagai korban,” tegasnya.

Sosialisasi PWI Kutim terkait pemberitaan ramah anak

Sementara itu Muhammad Syafranuddin yang merupakan Tenaga Ahli Pers PWI Kaltim mengungkapkan, pentingnya mengetahui kaidah-kaidah penulisan pemberitaan terkait anak di bawah umur, terutama anak sebagai korban kriminal maupun pelaku kriminal. Sebagaimana kaidah penulisan berita ramah anak yang disepakati antara Dewan Pers dan KPAI.

“Dengan mengumbar secara terbuka identitas anak di bawah umur yang terlibat dalam sebuah tindak kriminal, nantinya akan menjadi rekam jejak digital bagi anak itu sendiri. Sehingga dikhawatirkan akan sangat berpengaruh pada beban mental dan psikologi anak dan menghancurkan masa depannya. Sisi kemanusiaan menjadi penekanan terhadap model pemberitaan ramah anak,” ungkap mantan Kabag Humas Setkab Kutim ini.

Perlu diketahui, ancaman hukuman pidana selama 5 tahun penjara dan denda sebesar Rp 500 juta, bagi wartawan yang melanggar aturan pemberitaan ramah anak dan akhirnya mendapatkan somasi atau tuntutan hukum dari narasumber berita. Sehingga dengan adanya sosialisasi kaidah pemberitaan ramah anak yang diselenggarakan PWI Kutim, ke depan tidak ada lagi alasan ada wartawan di Kutim yang tidak mengetahui atau mengerti terkait aturan pemberitaan anak yang berlaku. (Arso)

  • " data-pin-do="buttonPin" data-pin-config="beside">