oleh

HPI Kaltim Keluhkan Minimnya Fasilitas di Kawasan Konservasi Prevab

-Berita Pilihan, Kaltim, Ragam-Dibaca : 223 Kali

SANGATTA – Fasilitas pendukung pada Kawasan Konnservasi Prevab di Taman Nasional Kutai (TNK), di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur semakin tahun kondisinya semakin mengkhawatirkan. Hal ini terkait akses pelayanan untuk Wisatawan Mancanegara (Wisman), yang dalam tiap kunjungan ke Kaltim. Selalu memasukkan kawasan tersebut dalam agenda tujuan utama mereka, terutama pada puncak-puncaknya kunjungan di bulan Agustus.

Hal ini diakui oleh banyak tour guide yang tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kaltim, seperti yang diungkapkan oleh Innal Rahman yang baru-baru ini membawa 3 orang turis asing asal Denmark. Wisman menyukai keberadaan habitat orang utan (Pongo pygmaeus) maupun spesies hewan khas tropik lainnya, termasuk kegiatan tracking pagi maupun malam dilokasi tersebut. Namun kendala keterbatasan kamar menjadi persoalan mendasar untuk Wisman, karena hanya ada dua buah kamar yang dapat ditempati. Kondisi toilet hingga dapur juga perlu perbaikkan, karena sudah tidak layak dan cenderung kotor.

“Sehingga kepada pihak-pihak terkait, diharap dapat memperbaiki kondisi camp di Prevab. Agar mampu menampung lebih banyak Wisman maupun Wisatawan Domestik, karena pengalaman-pengalaman sebelumnya, terkadang tour guide saling dulu-duluan memperebutkan dua buah kamar untuk tamu mereka. Jika tidak ada kamar, terpaksa tiduran diluar. Beruntung jika dapat mempergunakan camp research dan camp ranger TNK, yang sebenarnya tidak boleh dipergunakan,” terang Ketua DPC HPI Kukar ini.

Antusias turis asing terhadap TNK, diharapkan dapat membuat pihak pengelola meningkatkan fasiliitas yang ada.

Hal ini belum ditambah kondisi dermaga yang juga jadi sorotan lain, seperti diungkapkan Ketua DPC HPI Samarinda yakni H. Rustam yang sering membawa Wisman ke Prevab. Kondisi dermaga harus diperbaiki agar layak guna, belum lagi soal kebersihan pada daerah sekitar dermaga yang dijadikan lokasi untuk membuang sampah oleh warga.

“Kita minta agar sampah jangan dibuang didekat dermaga, harus ada tempat khusus. Kadang kita sebagai tour guide juga malu, saat melihat kepedulian turis asing untuk membersihkan sampah yang bukan sampah hasil buangan mereka. Miris kita pada kondisi itu. Besar harapan agar kondisi Prevab di TNK dapat serupa dengan lokasi Taman Nasional lain di Indonesia,” ungkap lelaki yang saat dihubungi wartakutim.co.id, sedang membawa turis Italia ke wilayah pedalaman Kutai Barat.

Terkait transportasi air dari wilayah Kabo menuju Prevab TNK, menjadi sorotan dasar. Karena ukuran perahu mungkin layak bagi orang Indonesia namun saat ditumpangi oleh orang asing, mereka pada umumnya kesulitan untuk masuk. Selain ukuran kecil dan juga tidak seragam antara perahu satu dengan lainnya. Ditambahkan Innal Rachman bahwa standarisasi ukuran perahu, ketinggian atap, hingga adanya pelampung (life jacket) di perahu juga harus diperhatikan.

Innal Rachman anggota HPI Kaltim, saat menuturkan perihal Prevab pada wartakutim.co.id

“Untuk itu diperlukan standarisasi ukuran perahu, kedapatan para wisman kesulitan saat masuk ke perahu. Selain terlalu kecil atap perahu juga rendah, sehingga kepala turis sering sangkut. Untuk tamu Indonesia tidak masalah, untuk tamu dari luar negeri hal ini jadi masalah,” ungkap Innal.

Kritikan ini bukanlah berarti menampikkan semangat pengelola dalam hal ini pihak TNK, namun diharapkan dapat menjadi masukan yang membuat TNK makin menarik dan setara dengan lokasi wisata alam lainnya. Seperti halnya Taman Nasional Komodo di Flores, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Ujung Kulon, hingga Taman Nasional Baluran. (Arso)