oleh

Jatah Solar Bahkan Naik 10 Persen, BBM di Kutim Masih Saja Langka

SANGATTA – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah sejak dua minggu lebih terjadi di Sangatta, hal ini terlihat di 4 SPBU di Sangatta Utara, 1 APMS di Sangatta Selatan serta 1 APMS di Teluk Pandan. Pemandangan jejeran antrian truck maupun mobil double cabin untuk dapat mengisi solar dengan waktu berjam-jam, dimulai pada saat sore tiba hingga malam hari. Padahal daerah ini mendapatkan jatah 80 ton perharinya, untuk konmsumsi warga Kutim secara keseluruhan.

Semula hal ini dianggap biasa saja oleh warga, seperti diungkapkan Udin (36) warga Jl AW Syahranie, sebenarnya hal ini dianggap biasa, namun menurutnya agak memancing pertanyaan saat jumlah antrian memanjang hingga melebihi Hotel Royal Victoria. “Jauh betul antriannya, lebih dari dua minggu ternyata itu dampak kelangkaan BBM,” ucapnya prihatin.

Pendapat yang sama diterangkan pula oleh Ardhani (50), dimana dirinya sempat harus terpaksa menginap di daerah Muara Bangalon. Akibat kelangkaan BBM, saat mengantar keluarga dan kemudian hendak balik ke Sangatta. Dirinya kehabisan bensin, mau balik terpaksa diundur semalam. “Esok paginya baru dapat bensin, itupun harga persatu liter bensin eceran mencapai Rp. 25.000,” terangnya pada wartakutim.co.id.

Persoalan ini bukan tidak dilakukan upayanya oleh Pemkab Kutim, bahkan pada Kamis (31/10) lalu ketika ada sesi pertemuan antara Field Manager PT Pertamina EP Asset 5 Hanif Setiawan dengan Wakil Bupati Kasmidi Bulang beserta jajaran di Ruang Tempudau, Kantor Bupati. Kabag Humas dan Protokol Setkab Kutim Imam Sujono Lutfi, melontarkan kondisi terkini mengenai kelangkaan BBM di Kutim.

“Kita berharap PT Pertamina EP Asset 5 dapat memahami kondisi kelangkaan BBM, yang terjadi di Kutim. Karena bagaimanapun masyarakat amat dirugikan, apalagi daerah ini merupakan daerah eksplorasi hulu migas dari perusahan plat merah. Setidaknya kondisi ini dapat disampaikan kepada pihak PT Pertamina di pusat, agar dapat segera teratasi dan tidak meresahkan masyarakat Kutim,” terang Kabag Humpro.

Sementara itu terkait kondisi ini, pihak Sales Branch Pertamina Wilayah Kaltim yakni Gedion mengungkapkan bahwa produk BBM untuk wilayah Kutim tetap sesuai kebutuhan. Bahkan untuk BBM jenis solar, dinaikkan jumlahnya sebesar 10 persen. “Untuk Kutim, tidak ada sama-sekali pengurangan kuota jumlah BBM. Untuk kuota premium pada 2019 ini sebesar 37.231 Kilo liter jatah di Kutim,” tegasnya.

Pertanyaannya saat ini, apakah yang terjadi dilapangan. Jika kuota yang dikeluarkan oleh pihak PT Pertamina tetap bahkan jatah solar dinaikkan hingga 10 persen dari jumlah ketetapan yang ada untuk daerah ini. Maka pemantauan SPBU hingga APMS harus diperketat oleh pihak Pemkab Kutim, dalam hal ini melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian. Agar jangan jatah minyak banyak keluar untuk para pengetap BBM hingga penjual BBM eceran maupun Pertamini yang tumbuh dipinggir jalan. Mengingat BBM itu berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, jangan ada kelangkaan atas dasar permainan spekulan semata. (Arso/Ndr)

  • " data-pin-do="buttonPin" data-pin-config="beside">