Penyebab Kedelai Impor dari Afrika Selatan Tak Kunjung Masuk ke Indonesia

Wartakutim.co.id, Jakarta – Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik, Perum Bulog Mokhamad Suyamto mengungkapkan, penyebab kedelai impor dari Afrika Selatan tak kunjung masuk ke Indonesia.

Hal ini karena kedelai Afrika belum masuk ke sistem karantina pangan Indonesia.

Seperti diketahui, Bulog menjajaki importasi kedelai dari Afrika Selatan dan Amerika Serikat. Total kuota importasi yang dijajaki sebanyak 350.000 ton sesuai hasil rapat koordinasi terbatas dengan pemerintah.

Namun, hingga Januari 2023 belum ada kejelasan mengenai kedatangan kedelai impor tersebut.

“Kenapa terlambat? Karena Kedelai Afrika itu belum pernah didatangkan ke Indonesia dan belum pernah tercatat dalam sistem karantina Indonesia. Sehingga secara keamanan pangan belum diakui di sini,” katanya kepada wartawan, ditulis Senin (16/1/2023).

Suyamto mengatakan, masih banyak dokumen karantina yang harus diurus urus terlebih dahulu.

Menurut dia, nanti yang akan mengurus dokumen-dokumen tersebut adalah pihak dari Afrika Selatan.

“Sehingga itu perlu waktu untuk mengurus, dan yang mengurus itu nanti yang mengajukan adalah karantina dari Afrika Selatan, perlu dokumen prognotis, dokumen sanitary ini yang perlu dikerjakan dan perlu waktu,” jelasnya.

Suyamto menjelaskan, Afrika Selatan dipilih menjadi negara importir kedelai sebagai alternatif, lantaran harganya lebih murah dibanding dengan Amerika Serikat.

“Kita akan mencoba alternatif selain dari AS. Kita rencana dari Afrika Selatan untuk mendapatkan supaya bisa harganya Rp10.500,” katanya.

Sebelumnya diberikatakan, Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan mengkritik Perum Bulog yang dinilai lamban merealisasikan kuota impor 350.000 ton kedelai.

Padahal hal tersebut sudah diputuskan dalam rapat terbatas (ratas) pada November 2022.

Awalnya, Bulog mengaku siap melaksanakan penugasan tersebut dan akan mendatangkan 350.000 ton kedelai pada November 2022. Namun, hingga saat ini janji Bulog tersebut belum bisa direalisasikan.

“Pada waktu itu Pak Bulog (Direktur Utama) mengatakan bisa Rp10.500, dari November, Desember enggak nongol-nongol barangnya,” katanya ditemui di Cilegon, Banten, Minggu (15/1/2023).

Zulhas sapaan akrab Zulkifli Hasan menilai, seharusnya BUMN mengambil langkah strategis disaat harga komoditas di pasaran mengalami kenaikan harga. Termasuk, harga kedelai.

Dia mengaku, geram lantaran Bulog tidak menepati janjinya. Padahal, menurut dia, ketika stok terpenuhi, maka intervensi pasar dapat dilakukan. Cara ini diyakini mampu menekan harga di pasar.

“Saya protes keras karena janji-janji, ‘ini barang akan datang pak pada akhir Desember’ gak datang juga, katanya Januari, ini sudah tanggal berapa, saya kira ini enggak jadi barangkali,” ucapnya. (Voi/Imr)