oleh

Hasil Studi Banding Wabup Ke Taman Nasional Mulu Malaysia

-Kaltim, Nasional, Ragam-Dibaca : 962 Kali

WARTAKUTIM.CO.ID, SANGATTA – Kunjungan Wakil Bupati Kasmidi Bulang bersama dengan Kepala Dinas Lingkungan (DLH) Kaltim Riza Indra hadi dan Bupati Berau Muharram ke Taman Nasional Mulu, Malaysia pada 26-30 April lalu. Menghasilkan beberapa langkah strategis, dalam melakukan pengembangan dan pengelolaan potensi Karst Sangkulirang-Mangkalihat.

Wakil Bupati mengakui jika kunjungan ke salah-satu situs warisan dunia yang masuk dalam daftar United Nations Educational, Scientific and Cultral Organization (UNESCO) di Taman Nasional Mulu tesebut, membuka banyak ide segar bagi Pemkab Kutim dalam mengembangkan potensi karst di daerah ini.

“Kita kesana itu tidak sia-sia, karena pada saat itu ada pihak Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan kegiatan ini difasilitasi oleh LSM Internasional dari Amerika yakni Tropical Forest Conservation Act (TFCA-II, red). Yang mana kegiatan ini menghasilkan sebuah rekomendasi berupa penyusunan masterplan pengelolaan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, di wilayah Kutim dan Berau. Agar kemudian didorong menjadi salah-satu situs warisan dunia yang diakui oleh UNESCO,” tegas lelaki bertubuh tinggi besar ini.

Kasmidi mengaku gerakan ini tidak saja digawangi oleh Kutai Timur, tetapi juga oleh Pemkab Berau dan Dinas Lingkungan Hidup Kaltim sebagai leading sector dalam pengembangan Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Maka proses memajukan sektor pariwisata alam di Kalimantan Timur agar mampu mendunia, tidak sulit untuk diwujudkan dalam waktu dekat. Bahkan untuk perbandingan saja, tofografi karst di Kutim jauh lebih baik dibandingkan dengan yang ada di Mulu. Baik itu dalam hal luasan wilayah, keragaman bentuk dan tinggi goa, maupun banyaknya jumlah goa.

Hanya untuk saat ini, support Pemerintah Malaysia dalam sektor pariwisata terbilang pesat dibandingkan Pemerintah Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat, dengan adanya lapangan pesawat terbang dan hotel bintang lima di kawasan Taman Nasional di negeri Jiran. Bahkan pengembangan fasilitas tersebut tak berpengaruh pada penilaian UNESCO, untuk menjadikan Taman Nasional Mulu sebagai salah-satu situs warisan dunia.

“Itulah mengapa Kutim dan Berau diundang untuk melakukan Studi Banding ke Taman Nasional Mulu Malaysia, oleh TFCA-II. Karena bentangan karst yang memanjang dari daerah kita hingga ke Berau jauh lebih besar potensi pariwisata dan konsep perlindungan alamnya. Sehingga jelas studi banding ini, bertujuan mengangkat potensi sumber daya pariwisata di wilayah Kaltim. Mulai pemerintah daerah dan provinsi, Tim Fakultas Geografi UGM, hingga LSM Pemerhati Karst Internasional,” jelasnya.

Prosesnya dimulai dengan perancangan aturan-aturan berupa Peraturan Daerah (Perda) oleh DLH Kaltim, yang akan diadopsi oleh Pemkab Kutim dan Berau. Sehingga karst tetap terjaga dengan baik keberadaanya, wisata alam yang ada dapat menarik wisatawan maupun menjadi lahan studi bagi mahasiswa, dosen dan peneliti, serta perlahan tapi pasti membuat pihak UNESCO menetapkan wilayah pegunungan karst di Kaltim menjadi situs sejarah warisan dunia.

“Kita diajak melihat secara langsung pengelolaan Taman Nasional Mulu, dan bahkan saya juga terkejut. Di kawasan yang ditumbuhi hutan lebat, ternyata ada bangunan hotel Marriot di tengah hutan ukuran bintang lima dengan bandara ditengah hutan. Ini yang akan kita adopsi, dan didorong kemudian pendekatannya akan disampaikan pada Pemerintah Pusat,” terang Wabup lebih jauh. (NALL)