oleh

Agusriansyah Ridwan “Upaya Penanganan Banjir Yang Progresif Dan Strategis Di Kota Sangatta Dan Sekitarnya “

-OPINI-Dibaca : 623 Kali

Banjir merupakan peristiwa karena terjadinya genangan di suatu tampat sebagai akibat terjadinya limpasan air dari sungai yang disebabkan debit air yang mengalir di sungai tersebut melebihi kapasitas pengalirannya. Selain akibat dari limpasan sungai, genangan banjir dapat pula terjadi akibat terjadinya hujan yang terus terus menerus terjadi, serta akibat terjadinya air laut pasang atau rob.
Ketiga peristiwa tersebut bisa terjadi secara bersamaan maupun terpisah.

Peristiwa banjir dapat menimbulkan kerugian maupun tidak. Apabila tidak menimbulkan kerugian dan gangguan terhadap manusia, tidak perlu dilakukan penanganan apapun terhadap peristiwa banjir tersebut. Sebab, adakalanya, banjir malah menguntungkan bagi umat manuisa karena luapan sungai dapat mengisi rawa-rawa sehingga sedimen yang tertinggal menimbulkan meningkatkan kesuburan tanah. Namun, peristiwa tersebut dapat pula menimbulkan masalah bagi manusia, yang dapat terjadi dimana-mana di dunia ini, tidak perduli pada negara yang telah maju/berkembang maupun di negara yang sedang berkembang.

Masalah banjir telah ada sejak manusia bermukim dan melakukan berbagai kegiatan di dataran banjir (flood plain) suatu sungai. Pesatnya perkembangan/pertumbuhan di dataran banjir hilir sungai berkaitan dengan terdapatnya berbagai kemudahan dan daya tarik, antara lain kondisi topografi yang relatif datar serta tanahnya yang subur.

Di beberapa kota-kota besar di Indonesia seperti yang ada di Samarinda, Balikpapan, Makassar, Ambon dan lainnya, masing-masing terletak di dataran banjir atau dekat dengan beberapa sungai. Demikian pula deaerah pertanian/irigasi yang luas dan subur sebagian besar terletak pada dataran banjir. Berbagai kejadian bencana berupa banjir dan tanah longsor dipicu oleh berkurangnya luasan penutupan hutan akibat penebangan hutan terjadi dimana-mana. Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berfungsi utama sebagai pengatur siklus air dan siklus hara mengalami penurunan fungsi dan kualitas yang sangat besar.

Kerusakan lingkungan dan kekritisan DAS merupakan salah satu penyebab bencana yang melanda Kabupaten Kutai Timur.
Di Kabupaten Kutai Timur terdapat beberapa jenis banjir, yaitu banjir lokal akibat tersumbatnya saluran, banjir kiriman akibat luapan sungai pengendali banjir (Fauzi, 2006). Beberapa sungai yang ada akan berpotensi menimbulkan banjir kiriman. Luas genangan semakin tahun semakin bertambah (Fauzi, 2009). Berdasarkan keadaan terebut, beberapa kawasan yang ada di Kutai Timur tepatnya di Kota Sangatta dan sekitarnya masuk dalam kategori rawan banjir. Secara umum penyebab banjir di Sangatta Kabupaten Kutai Timur antara lain adalah dataran yang termasuk rendah, peningkatan kepadatan penduduk yang tidak diikuti pembangunan infrastruktur yang memadai, kesadaran warga terhadap lingkungan masih rendah, membuang sampah di sembarang tempat sehingga terjadi penumpukan sampah baik di daratan maupun sungai. Banjir, terkait dan berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat, oleh karena itu, upaya untuk mengatasinya merupakan upaya bersama antara Pemerintah Kota, Masyarakat, dan Industri/Swasta. Terbatasnya kemampuan pemerintah dalam membangun sarana dan parasarana penanggulangan banjir menjadi perlu, adanya upaya untuk mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat dalam menumbuhkan perilaku tanggap diri terhadap bencana banjir melalui upaya yang progresif dan strategis di Kota Sangatta dan sekitarnya di Kabupaten Kutai Timur.

Secara rinci penyebab banjir di wilayah Sangatta dan sekitarnya adalah curah hujan yang tinggi diatas normal, alih fungsi lahan di daerah tangkapan air hujan (catchmenta area), berkurangnya daerah resapan land subsidence: beban bangunan berlebihan dan pengeboran sumur tanah, pembelokan sungai.

Pengetahuan dan sikap masyarakat tentang tanggap diri terhadap bencana banjir dengan indikator macam bencana banjir, bahaya bencana banjir, perencanaan pengendalian bencana banjir, perbuatan yang mengakibatkan bencana banjir, upaya penanggulangan bencana banjir berada dalam kategori baik. Perilaku tanggap diri terhadap kondisi banjir yang sering dialami warga sudah nampak dalam berbagai perilaku yang variatif.
Upaya yang dilakukan Pemda Kutai Timur terhadap Wilayah Sangatta dan sekitarnya untuk mengatasi dampak banjir sudah banyak dilakukan baik upaya yang bersifat struktur, maupun non struktur, namun ini tentu masih sangat diperlukan langkah -langkah selanjutnya dalam menangani masalah Banjir.

Upaya lain yang bersifat struktur yang harus di maksimalkan adalah misalnya dengan membangun tanggul, sistem pintu air, normalisasi saluran air, dan sumur-sumur resapan. Sedangkan upaya yang bersifat non struktur misalnya dengan memperbaiki sistem pengelolaan DAS, mengembangkan sistem peringatan dini, pengendalian pengambilan air tanah dan penegakan hukum. Selain pintu air yang sudah ada, pemerintahpun sedang berencana membangun pompa air di beberapa outlet sungai.

Model Pemberdayaan Masyarakat Kota Sangatta Berperilaku Tanggap Diri terhadap Bencana Banjir dapat dilakukan melalui Model Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pendekatan Partisipatif, Model Pemberdayaan Berbasis Masalah.

Beberapa langkah- langkah yang dapat dilakukan dalam rangka menanggulangi permasalahan banjir di kota sangata dan sekitarnya :

1) Pemerintah perlu menyusun kebijakan pemberdayaan masyarakat menuju perilaku tanggap diri pada daerah rawan banjir, agar masyarakat lebih mengetahui bagaimana cara mengantisipasi jika bencana banjir datang.

2) Pemerintah bersama masyarakat terus melaksanakan penghijauan, peninggian saluran, pembersihan sampah di sungai, dan pembuatan tanggul secara sistematis dan berkelanjutan.

3) Menghilangkan rasa pasrah diri kepada keadaan akibat bencana banjir yang melanda setiap saat di Sangatta.

4) Pelibatan masyarakat, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dalam upaya penanggulangan bencana banjir perlu terus ditingkatkan.

5) Keterbukaan dan kemudahan penyampaian maupun penerimaan informasi tentang upaya yang dilakukan oleh Pemerintah perlu terus dikembangkan secara sinergis dan berkelanjutan.

6) Menghindari penyimpangan tata ruang yang sudah direncanakan dengan baik.

7) Perlunya upaya preventif/mitigasi, seperti pengaturan penggunaan lahan yang menjamin bahwa masyarakat tidak membangun didaerah rawan, atau pengaturan land use yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah, pembangunan dam atau tanggul untuk mengontrol banjir; kesiagaan (preparednes) yaitu bagian dari adaptasi terhadap bencana, merupakan suatu tindakan yang memungkinkan pemerintah, organisasi, masyarakat, perorangan (stake-holder) dapat merespon dengan cepat & efektif terhadap situasi bencana, sehingga masyarakat sebagai kelompok yang rentan tidak menjadi korban bencana; kegiatan dalam kesiagaan seperti adanya kelompok peduli masyarakat peduli bencana, pembelajaran tentang kebencanaan, sosialisasai kepada warga masyarakat, peta rawan banjir, dan tiundakan yang harus diambil ketika bencana terjadi.

8. Perlu adanya beberapa contoh tindakan yang bersifat kesiagaan, seperti formulasi dan pemeliharaan yang akurat, rencana pencegahan bencana yang up-to date; perlengkapan khusus untuk tindakan emergency, seperti evakuasi penduduk atau perpindahan sementara ketempat yang aman, perlengkapan sistem peringatan, pengenalan early warning system kepada stake-holder sesuai tingkatan, komunikasi emergency, pendidikan & kesadaran masyarakat, dan program pelatihan termasuk latihan dan tes. Sedangkan sub segmen dari kesiagaan seperti: Peringatan: waktu atau periode ketika bahaya sudah teridentifikasi tetapi belum membahayakan daerah tertentu; Bahaya: waktu atau periode ketika bahaya sudah teridentifikasi dan diperkirakan telah membahayakan daerah tertentu; Perhatian: tindakan diambil setelah menerima peringatan untuk mengurangi pengaruh dari dampak bencana. Contoh: menutup kantor-kantor, sekolah-sekolah, membuat aman kendaraan.

9) Penanganan banjir perlu dilakukan secara sinergis melalui pendekatan struktur dan nonstruktur, yaitu tidak hanya penanggulangan di daerah hilir dengan modifikasi dan perbaikan sungai dengan pembuatan bangunan pengendali banjir, melainkan juga dengan penanganan dan pengaturan daerah aliran sungai bagian hulu dalam rangka konservasi tanah/pengendalian erosi dan sedimentasi, penataan ruang, pemberian peringatan dini kepada masyarakat (flood forecasting and early warning system) dalam rangka evakuasi, penganggulangan banjir (flood fighting), dsb. (adv)