oleh

Mahasiswa-Mahasiswi Dari Tiga Sekolah Tinggi di Kutim Gelar Aksi Demonstrasi

-Berita Pilihan, Kaltim, Regional-Dibaca : 1.218 Kali

SANGATTA – Aksi Demonstrasi tidak saja terjadi diberbagai kota di Jawa maupun Ibukota Jakarta, namun juga terjadi di Ibukota Kabupaten Kutai Timur, Sangatta pada Senin (30/9). Aksi yang diikuti oleh mahasiswa-mahasiswi dari tiga Sekolah Tinggi, mulai Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Sangatta, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nusantara. Aksi yang mengikutkan ratusan mahasiswa-mahasiswi tersebut berujung pada titik aksi utama di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutim.

Gelombang aksi demonstrasi ini, bermula dari pembahasan rancangan revisi UU KPK Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada rapatkerja Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama pemerintah yang dilaksanakan pada Kamis (12/9) lalu. Hingga Hingga menyusul revisi RUU KPK disahkan di rapat paripurna DPR pada (17/9). Beragam protes dan tuntutan terus dilayangkan ke DPR hingga hari ini, karena keputusan tersebut sungguh sangat amat tidak mewakili aspirasi rakyat.

Revisi tersebut telah melumpuhkan KPK, karena sejumlah kewenangan yang dahulu dimiliki KPK, kini ditiadakan. Yang semula independen kini KPK tak lagi independen, karena sekarang, keberadaannya sebagai lembaga eksekutif. Bila demikian, pegawai KPK adalah Aparatur Sipil Negara (ASN), dengan begitu saat menjalankan tugasnya, KPK tak lagi bebas dari intervensi dan pengaruh kekuasaan manapun.

Pada kesempatan tersebut, sempat terjadi perseteruan panas antara mahasiswa-mahasiswi dengan pihak DPRD yang diwakili langsung oleh Ketua DPRD Sementara Uche Prasetyo. Dimana mahasiswa mendesak agar mereka dapat masuk ke dalam gedung DPRD dan dilakukannya Rapat Paripurna terkait perihal ini. Ketua DPRD Sementara dihadapan mahasiswa meminta agar mahasiswa tidak bertindak anarkis, karena bagaimanapun juga sebagai anggota DPRD Kutim dirinya disumpah untuk menjaga nama institusi. “Saya disumpah menjaga konstitusi, dipenggal kepala saya, tetap menjaga konstitusi. Kalau mahasiswa-mahasiwi mau diskusi, saya persilahkan. Namun kalau tetap melakukan demonstrasi, mana tuntutannya, ungkap politisi PPP ini.

Nyanyian Dibawah Kuasa Tirani, pelan-pelan menyusur tiap relung suara mahasiswa-mahasiswi yang melakukan aksi demonstrasi pada siang tadi. “Dibawah topi jerami. Ku susuri terik matahari, Berjuta kali turun aksi, Bagiku itu langkah pasti. Marilah kawan mari kita suarakan, Di tangan kita tergenggam arah bangsa, Marilah kawan mari kita nyanyikan, Sebuah lagu tentang pembebasan,” nyanyi ratusan mahasiswa di DPRD Kutim.

Setelah berjalan alot, akhirnya Ketua DPRD Sementara Uche Prasetyo dan ratusan mahasiswa melakukan pertemuan didalam gedung dewan, untuk menyampaikan tuntutan aksi. Dimana mahasiswa-mahasiswi yang bergabung dalam aksi #KUTIMBERGERAK menyatakan 9 buah tuntutan. Pertama mendesak Presiden mengeluarkan Perppu terkait UU KPK terbaru. Kedua tolak segala Undang-undang yang melemahkan demokrasi, ketiga tolak TNI dan Polri menduduki jabatan sipil.

Keempat bebaskan aktivis pro demokrasi, kelima berikan hak demokrasi sejati bagi Papua. Tuntutan keenam tuntaskan pelanggaran HAM, dan adili pelaku pelanggaran HAM, ketujuh segera sahkan RUU P-KS, kedelapan adili penembakan mahasiswa Kendari. Adapun tuntutan terakhir yakni kesembilan selesaikan Karhutla Kalimantan dan Sumatera serta tangkap korporasi dan pengusaha yang sengaja membakar hutan. (Arso)