oleh

Batu Akik Tiarap, Batu Mulia Dimuliakan Pencinta

-Berita Pilihan, Ekonomi-Dibaca : 4.891 Kali

SANGATTA – Booming batu akik pada beberapa tahun lalu, memang telah menyusut tajam dikalangan para pencinta batu. Jika dulu tidak hanya batu yang berbalut cincin dijual oleh para pedagang hingga pengerajin batu cincin, namun juga bongkahan-bongkahan batu sebesar gaban dapat dengan mudah ditemukan dipinggiran jalan. Kini tentu pemandangan tersebut amat jarang sekali kita temukan, atau bahkan nyaris tidak terlihat semeriah dulu.

Namun soal kecintaan hingga kesanggupan mengkoleksi batu tidak kunjung surut dimakan jaman, mungkin untuk batu akik dapat dikatakan menurun drastis alias tiarap saat ini. Namun ada hal menarik jika berbicara batu mulia, yakni batu dengan tingkatan diatas batu, yang disebutkan diatas tadi. Batu mulia yang terus bertahan harga maupun peminatnya dikalangan pencinta cincin, antara lain berlian, merah delima, safir, zamrud (emerald), kalimaya, kecubung, hingga yakut.

Diungkapkan Rusli, salah-satu pedagang batu mulia di Sangatta bahwa memang pada saat ini untuk batu akik mengalami penurunan drastis dibandingkan pada masa-masa musim batu cincin lagi booming-boomingnya. Saat ini dirinya hanya menawarkan pada pelanggan jenis-jenis batu mulia saja.

“Mending berjualan batu mulia, harganya memang diatas rata-rata dengan kisaran paling murah diatas Rp 1,5 juta. Itupun tergantung besar kecilnya ukuran batu mulia, kualitas, hingga kerumitan mendapatkan batu mulia yang diinginkan. Untuk saat ini selain berjualan langsung, saya juga melakukan barter dengan pelanggan. Jika pelanggan menghendaki batu mulia dengan model baru, maka terjadi tukar tambah dari batu mulia yang dimilikinya,” ungkap pria berkacamata ini.

Lain lagi dengan Nani, dirinya memiliki koleksi batu mulia beragam yang dikoleksi sejak lama. Terkadang sangking banyaknya koleksi, ia kebingungan hendak menggunakan cincin yang hendak dipergunakan saat beraktifitas diluar. Semisal pada hari senin ia memakai black diamond, maka saat esok harinya blue safir.

“Sangking banyaknya koleksi, terkadang ada kawan tertarik membelinya. Saya sich tidak mau, namun dipaksa-paksa oleh kawan. Dan langsung dibayar dengan harga sesuai, terus saya mau bilang apa. Ya terpaksa diterima, yang terpenting semangat pencinta batu mulia masih terus tumbuh di Kalimantan,” ungkapnya.

Sementara itu ada pula Juni, yang baru-baru ini gemar mengoleksi batu mulia. Ia menyenangi batu mulia pertama kali, karena mendapatkan cincin peninggalan almarhum Ayahnya. Ketika kawan-kawannya melihat, mereka tertarik dengan cincin tersebut. Sehingga menyebabkan rasa penasaran dari dirinya, untuk mengenal jenis-jenis batu mulia.

“Awal mulanya hanya memiliki 1 buah cincin, lalu nambah perlahan-lahan mengoleksi satu-persatu batu mulia. Dulu sich risih juga pake cincin, jangankan cincin batu mulia, pake cincin kawin aja risih. Namun saat ini nggak risih lagi, karena memang kesengsem jadi pencinta batu mulia,” ungkapnya tersenyum. (Arso)

  • " data-pin-do="buttonPin" data-pin-config="beside">