oleh

Tantangan Lulusan Stiper Kutim, Ialah Terjun ke Sektor Pertanian

-Berita Pilihan, Ekonomi, Ragam-Dibaca : 312 Kali

SANGATTA – Tantangan yang dihadapi oleh Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (Stiper) Kutai Timur, adalah untuk menerjunkan lulusannya menyeriusi sektor pertanian hingga perikanan sebagai peluang untuk turut-serta membangun daerah. Mengingat daerah ini memiliki lahan-lahan pertanian potensial, yang belum digarap secara maksimal.

Ketua Program Studi (Prodi) Agroteknologi Stiper Kutim Rudi, SP,. MP mengakui jika lulusan mahasiswa-mahasiswi pertanian, setelah lulus kuliah. Seringkali tidak memanfaatkan dengan baik, perihal ilmu pertanian yang diperoleh mereka dibangku kuliah.

“Padahal kita ketahui jika Kutim, amat membutuhkan generasi-generasi muda yang terjun ke dunia pertanian agar dapat melanjutkan tongkat estafet petani-petani tradisional. Untuk kemudian dikembangkan dengan cara modern dan memberikan terobosan berupa inovasi-inovasi baru pada sektor pertanian di daerah,” tegasnya saat diwawancarai wartakutim.co.id.

Rudi lantas menerangkan, jika dunia pertanian memiliki peluang pasar yang tiada habis-habisnya. Mengingat dunia saat ini amat membutuhkan dan tergantung pada produk-produk hasil pertanian. Berbicara soal petani, mungkin dianggap sebelah mata oleh generasi muda bahkan lulusan mahasiswa-mahasiswi pertanian.

Ketua Program Studi (Prodi) Agroteknologi Stiper Kutim Rudi, SP,. MP.

“Kebanyakan mereka tidak melihat peluang yang besar yang ada di sektor pertanian, hingga tidak ada minat terjun ke pertanian dalam arti luas. Sehingga sering didapati, mahasiswa-mahasiswi lulusan Stiper yang lebih memilih menjadi TK2D, atau bekerja diluar koridor ilmu yang dipelajarinya dibangku kuliah,” ungkap Ketua Prodi Agroteknologi ini.

Walaupun demikian dirinya mengakui, ada pula lulusan mahasiswa-mahasiswi Stiper Kutim yang terjun ke sektor pertanian. Namun memang belum secara masif menghasilkan gerakan besar dalam pembangunan pertanian di daerah ini. Akan tetapi, untuk sementara apa yang dilakukan mereka dapat dimaknai sebagai pijakan awal dalam mendukung pembangunan sektor pertanian di Kutim.

“Ada beberapa lulusan Agroteknologi Stiper yang saat ini menggarap sektor pertanian, sebut saja salah-satunya Zaenal. Yang mana ia menjadi pengusaha sayur-mayur, selain itu ada beberapa anak yang menjadi pemasok selada di Kongbeng serta Muara Wahau, lalu ada pula anak-anak di Sangkulirang yang menjadi petani jamur tiram. Belum lagi mereka yang terjun bersama Pemkab Kutim, sebagai penyuluh pertanian lapangan,” ungkapnya bangga. (Dwi/Arso)

  • " data-pin-do="buttonPin" data-pin-config="beside">