Bengalon Kawasan Industri – Hindari Konflik, Perkuat Komunikasi

Bengalon Kawasan Industri - Hindari Konflik, Perkuat Komunikasi

Wartakutim.co.id, Sangatta – Kecamatan Bengalon dalam beberapa waktu belakang menjadi magnet lain di Kabupaten Kutai Timur, berada disebelah utara Ibu Kota Kabupaten. Wilayah yang dulunya terkenal sebagai penghasil pertanian dan perkebunan, perlahan-lahan tumbuh sebagai kawasan industri.

Bahkan tiga perusahaan yang bergerak di bidang metanol yakni PT. Ithaca Resources, Air Product, hingga PT. Bakrie Capital Indonesia (BCI) mulai bergerak membangun pabrik industri metanol dengan nilai puluhann triliun rupiah. Itu belum termasuk perusahaan-perusahaan yang bergerak pada bidang lain, serta telah lama beroperasi di wilayah tersebut.

Anggota DPRD Kutim Abdi Firdaus menyebutkan, warga masyarakat setempat harus mengimbangi atas banyaknya investasi-investasi besar di wilayah itu. Bengalon jelas akan semakin maju, dengan banyaknya industri besar ditempatkan disana.

“Level industri yang tidak kecil, bahkan sudah terbesar se-Asia Tenggara. Tentu yang diminta oleh masyarakat adalah kesejahteraan kedepannya,” terang Pria yang akrab disapa AFI ini

Tentu hal ini membuat Bengalon akan menjadi sumber mata pencaharian dari banyak orang, baik warga lokal dan warga pendatang. Dari pengamatan politisi Partai Demokrat Kutim tersebut, terdapat 19 suku yang menempati kecamatan Bengalon. Untuk tiap-tiap suku ada yang dituakan atau pemimpin komunal.

“Beruntungnya ada Ketua-Ketua Suku atau Ketua Forum. Jika ada konflik ditataran bawah, maka bagaimana mereka berkumpul dan meredam bahaya konflik. Alhamduillah di Bengalon selama ini tidak pernah ada konflik,” ungkapnya.

AFI menyebutkan hal ini berkat kemajemukan atau keberagaman yang tumbuh di masyarakat, sehingga jika ada masalah maka akan segera dibicarakan dan diambil langkah bijak.

“Jika ada masalah, kita pasti berkomunikasi langsung dengan Ketua Lembaga Adat Besar. Termasuk memperkuat komunikasi dengan Ketua-Ketua Forum yang ada, untuk turun dan meredam bahaya konflik,” jelas alumni STAI Sangatta. (ADV-DPRD/Wal/Imr)