Akibat Makanan Berkurang, Buaya Dikutim Makin Ganas

Diduga buaya ini telah menerkam Della Handayani
Diduga buaya ini telah menerkam Della Handayani
Diduga buaya ini telah menerkam Della Handayani

Manusia dan buaya jenis muara (crocodylus porosus) hidup berdampingan di Bumi Kutim sejak lampau. Namun, kejadian karnivora buas itu menerkam orang cenderung marak dalam 20 tahun terakhir, terutama karena teritori mereka yang terus terdesak aktivitas manusia menyebabkan kian berkurangnya sumber makanan buaya.

Kisah paling legendaris tentu pada 2003 lalu, ketika seekor buaya dengan panjang 6 meter memangsa seorang ibu pencari daun nipah di Sangatta. Bangkai buaya itu kini diawetkan ?? Museum Kayu ?? Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar). Dari sanalah, muncul istilah “monster Sangatta”.

Setelah itu, tercatat belasan kali kasus buaya menyerang manusia di beberapa kecamatan di Kutim, kabupaten pemekaran Kutai dengan anak sungai yang bertebaran di sekujur wilayah. Termasuk yang baru terjadi pada 17 Januari 2014 lalu, ketika buaya di Sungai Asam, Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, menerkam ayah-anak Sandi (55) dan Wahyu (23).

Desa Sangkimah, Kecamatan Sangatta Selatan, mungkin yang paling sering diteror sang predator. Sejak 1998 lalu, setidaknya ada empat korban keganasan buaya, yakni Ratna (1999), Rahmatia (2000), Daeng Malewa (2003), dan Selamet (2004). Pada 2013, Sapia juga menjadi korban. Beruntung dia selamat, meski mengalami luka parah di bagian wajah.

Syahdan, di Sungai Sangkimah saat ini, masih berkeliaran monster berukuran mencapai 8 meter dengan bobot mencapai 1,5 ton. Sebenarnya hewan ini tak pandang korban. “Menu” apa saja disantap; hewan hidup atau bangkai busuk. Tapi, jika sumber makanan terus menyusut, hanya persoalan waktu mereka akan kembali menyerang manusia. (aj/kpnn/luc/zal/k9)

<

p style=”text-align: justify;”>

<

p style=”text-align: justify;”>

Sumber : Kaltim Post Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.