oleh

Dandim: Perkokoh Mentalitas dan Pemahaman Ideologi Pancasila Guna Mencegah Bahaya Radikalisme

SANGATTA – Sebagaimana amanat Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara nasional Indonesia, tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI berdasarkan Pancasila dan undang-undang Dasar 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

Maka Kodim 0909/Sangatta mengelar Bin Komsos dengan tema, “Melalui Kegiatan Pembinaan Komsos Cegah Tangkal Radikalisme/Separatisme, Kita Perkokoh Mentalitas dan Pemahaman Ideologi Pancasila”. Dalam kesempatan tersebut Dandim 0909/Sangatta Letkol Czi Pabate membuka acara, sembari menjelaskan beberapa perihal mengenai bahaya radikalisme/separatisme.

“Kegiatan ini adalah program yang penting untuk dilaksanakan dan disosialisasikan. Kita mengharapakan pada semua yang hadir dalam kegiatan ini dapat menjadi agen, yakni mampu mempromosikan agar masyarakat selalu berhati-hati dalam menanggapi isu-isu tidak benar melalui Media Sosial. Semisal yang terjadi di Papua, karena ada isu yang muncul di medsos membuat terjadi konflik suku atau rasis, untuk itu penting menyaring berita di Medsos serta sikap yang bijaksana,” terangnya.

Lebih jauh Dandim menyebutkan bahwa amat penting memperkokoh mentalitas dan pemahaman ideologi Pancasila guna mencegah bahaya radikalisme. Apalagi pada akhir-akhir ini bibit radikalisme masuk melalui berbagai cara, termasuk melalui siraman rohani atau agama. Terkadang ada selipan unsur provokasi pada umat didalamnya, hal inilah yang perlu dipahami dengan baik dan bijak oleh seluruh elemen bangsa Indonesia. Ada cara untuk melihat radikalisme, yakni apakah Empat Pilar kebangsaan diakui apa tidak oleh oknum atau kelompok.

“Mulai dari pilar pertama yakni Pancasila, kalau mereka tidak kenal itu nyata radikal. Pilar kedua ialah UUD 1945, kalau tak kenal ini sebagai sebuah dasar, tentu itu dipastikan seseorang akan radikal. Ketiga ialah Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu jua. WNI harus menghargai perbedaan baik itu suku, agama, golongan dan ras. Tidak menghargai itu sudah dapat dikatakan radikal. Keempat ialah NKRI! Kalau ada orang yang tidak mengakui bahwa negara kita adalah satu-kesatuan, ia adalah radikal dan itu pasti. Inilah cara singkat untuk mengetahui orang radikal atau tidak,” tegas Dandim 0909/Sangatta dihadapan peserta sosialisasi.

Pemateri Sosialisasi Pasiter Kodim 0909/Sangatta Kapten Inf Imam Nawawi dalam kesempatan tersebut menambahkan, Indonesia memiliki sejarah panjang dan bahkan jauh sebelum Indonesia itu berdiri. Dimana ada Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit dengan kekuasaan yang luas. Dua kali sejarah tersebut menegaskan perihal yang sama, hancur karena adanya rongrongan radikalisme dari dalam.

“Berkaca pada hal itulah, maka jangan sampai hancur karena rongrongan dari dalam, salah-satunya adalah gerakan radikalisme yang ada sejak dulu. Hal inilay yang dipelajari oleh Belanda, sehingga melalui politik pecah-belah dapat dilakukan penjajahan. Karena mereka tahu benar, jika seluruh elemen bangsa ini bersatu maka siapapun itu tak dapat mengalahkannya,” ungkap lelaki kelahiran Malang, Jawa Timur ini.

Hadir dalam kesempatan tersebut Polres Kutim, Persit Kartika Chandra Kirana, Jalasenastri, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Forum Komunikasi Putra Putri TNI – POLRI (FKPPI), Pemuda Pancasila Kutim, dan Ikatan Keluarga Toraja Kutim. (Arso)

DOWNLOAD APLIKASI WARTAKUTIM

Kutim Zona Merah, Ini Kata Bupati Belum Usulkan PSBB Ke Pemprov Kaltim

  • " data-pin-do="buttonPin" data-pin-config="beside">