oleh

Potensi Radikalisme Ada Di Tiap-tiap Daerah

SANGATTA – Indonesia saat ini sedang menghadapi bahaya paling menakutkan, yakni penyebaran bibit radikalisme dan ekstremisme ditengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga diperlukan pengingat dan penanaman kembali mengenai arti cinta tanah air dan pentingnya Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Dandim 0909/Sangatta Letkol Czi Pabate menegaskan, bahwa merupakan tugas semua pihak, termasuk seluruh elemen negara untuk menjaga bangsa Indonesia dari upaya penyebaran paham radikalisme yang dapat merusak sendi-sendi bernegara. Dandim menerangkan lebih jauh, jika penyebaran radikalisme dapat timbul di tiap-tiap daerah.

“Memang kita sadari bahwa paham radikalisme cukup banyak dan sangat meresahkan di Indonesia. Paham seperti itu dapat membuat negara kita terpecah-belah. Sehingga sosialisasi ini amat tepat, untuk mengingatkan kembali pada seluruh masyarakat. Baik itu tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, maupun juga tokoh pemuda,” tegas Dandim 0909/Sangatta.

Sehingga antisipasi terus-menerus harus dilakukan, sehingga jika ada bibit radikalisme maka harus dilakukan deradikalisasi, dengan melakukan kerjasama dengan pihak berkompeten terkait perihal tersebut. Sehingga hal-hal yang tidak diinginkan dapat diatasi sejak dini, agar tidak menimbulkan huru-hara ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

“Contoh misalnya dalam suatu paham, otomatis kita harus menggandeng para ulama-ulama atau tokoh agama. Dengan cara yang dilakukan secara tersendiri, agar pencegahan berjalan dengan baik melalui upaya yang santun dan damai. Kegiatan ini terpusat di Sangatta, untuk wilayah Kodim 0909/Sangatta yang mana hingga ke kecamatan-kecamatan dan bahkan desa,” jelas Komandan Batalion Zipur Ananta Dharma Kodam VI Mulawarman.

Dandim kemudian menyebutkan, adapun polanya untuk jajaran TNI AD hingga ke bawah, tidak berupa sosialisasi yang diadakan di Kodim. Namun masuknya lebih pada tiap-tiap event yang ada di kecamatan, melalui peranan Danramil hingga Babinsa (Bintara Pembina Desa, red). Dimana tidak harus resmi seperti yang dilakukan seperti sekarang, namun lebih komunikatif dengan pola kemasyarakatan tentunya.

“Kunci utama atau tombaknya adalah Babinsa, yang mana langsung bersentuhan pada masyarakat. Mereka nanti yang akan menggaungkan dan mensosialisasikan. Agar masyarakat dapat menahan diri dan mampu menangkal dahsyatnya paham radikalisme,” tegasnya saat diwawancarai. (Arso)

  • " data-pin-do="buttonPin" data-pin-config="beside">