oleh

Kutai Timur Masuk Daerah Rawan Narkoba

SANGATTA – Ditetapkannya Kalimantan Timur sebagai lokasi Ibu Kota Negara (IKN) menggantikan DKI Jakarta, membawa dampak positif yang luar biasa baik dalam perihal pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, serta komposisi penyebaran penduduk yang jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun ada perihal yang dikhawatirkan terkait dampak negatif, yakni peredaran narkoba.

Kapolres Kutim AKBP Indras Budi Purnomo menyebutkan indikator peredaran narkoba di wilayah Kalimantan Timur pada umumnya maupun Kutim pada khususnya, begitu tinggi. Dari segi geografis Kutim dan Kaltim pada umumnya tidak diuntungkan, dengan luasnya wilayah daratan maupun jarak perairan.

“Kenapa hal ini saya sebutkan, dapat dilihat dari indikator peredaran narkoba. Bandar-bandar narkoba dari luar melihat ini sebagai potensi, yang bisa memudahkan mereka masuk mengedarkan barang haram tersebut di Kaltim,” tegas Kapolres.

Kemampuan penegak hukum terbatas jika mengacu masuknya peredaran narkoba di wilayah Kaltim, sepanjang wilayah laut hingga sungai-sungai yang luas. Tentu meningkatkan kesulitan aparat mendeteksi bahaya masuknya narkoba. Kutim sendiri diakui Kapolres sebagai wilayah transit maupun peredaran narkoba yang luar biasa.

“Perlu saya informasikan, Kutim jadi wilayah transit dan menjadi tempat peredaran narkoba yang luar biasa. Kepolisian tidak dapat bekerja sendirian tanpa didukung seluruh elemen masyarakat untuk memeranginya. Status gawat narkoba sudah dicanangkan sejak tahun 2014-2015, makin diperangi makin merajalela,” jelasnya.

Memasuki bulan Maret 2020, sudah ada lebih dari 13 kasus yang diungkap oleh Polres Kutim dari beberapa kasus yang terjadi baik di Sangatta Utara, maupun kecamatan yang ada di pedalaman dan pessir Kutim. Bahkan akibat bahaya narkoba begitu mengerikan, karena tidak memandang status sosial. Baik dari kalangan artis hingga masyarakat biasa juga amat riskan terkena bahaya narkoba.

“Amerika takutnya dengan narkoba, dijajah dengan ekonomi dan lain-lain tidak mempan. Namun narkoba merupakan musuh utama negeri tersebut, karena merusak generasi muda. Strategi narkoba bagaimana merusak dalam waktu 20 tahun, saat itu terjadi negara akan hancur karenanya. Hal ini jadi pekerjaan rumah kita semua, termasuk pemuda-pemudi di Kutim,” ungkap Kapolres prihatin.

Untuk saat ini pihak Polres Kutim terus melakukan upaya pencegahan dan pembinaan, agar dampak bahaya narkoba dapat menurun drastis. 4,5 juta orang di Indonesia adalah pemakai aktif narkoba. Tingkat kerugian negara mencapai Rp. 60 triliun, yang mulai dari penyebab kematian, kemiskinan, perusakan anak-anak muda dan berbahaya bagi negara. (Ars)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

DOWNLOAD APLIKASI ANDROID WARTA KUTIMĀ