AdvetorialEkonomi

Sektor Perkebunan dan Pertanian Andalan Muara Wahau

53
×

Sektor Perkebunan dan Pertanian Andalan Muara Wahau

Sebarkan artikel ini

Wartakutim.co.id, Muara Wahau – Camat Muara Wahau Marlianto mengakui, jika daerahnya memang menjadi sasaran utama bagi para pendatang untuk merajut hidup baru di Kaltim. Terutama mereka yang memiliki skill pada bidang perkebunan dan pertanian, dapat dipastikan survive hidup di daerahnya.

Desa dengan jumlah penduduk terbesar ada di Muara Wahau sebanyak 12.239 jiwa persentasenya 34,03 persen diikuti Wana Sari dengan jumlah penduduk sebanyak 4.880 jiwa, Jak Luay 4.059 jiwa, Karya Bakti 4.203 jiwa dan Nehesliah Bing 3.976 jiwa, untuk desa-desa lainnya jumlah penduduk dikisaran angka 3.000 hingga 1.000 jiwa kebawah

“Itu kita baru bicara data pertumbuhan penduduk ditahun 2020, jika berbicara tahun 2022 tentu lebih lagi. Desa lainnya bukannya tidak meningkat jumlah penduduknya. Namun karena banyak lahan perkebunan kelapa sawit disana, dibandingkan pemukiman warga,” ujar Camat ditemui pada Selasa (9/8/2022) lalu.

Diluar itu, komoditi pangan seperti jagung, ketela pohon, kacang tanah, ketela rambat, kacang kedelai dan kacang hijau juga jadi primadona lain petani. Kalau padi sawah dan padi ladang di Muara Wahau luasannya mencapai 135,50 hektar. Dimana padi sawah mengambil porsi kecil yakni 3 hektar, sisanya diambil padi ladang.

“Ada pula tanaman hortikultura seperti sawi, semangka, dan terong yang ditanam warga secara keseluruhan. Tetapi tidak banyak luasan lahannya, dikisaran 20 hektar. Kalau tanaman obat-obatan juga ada yang ditanam petani, seperti jahe, kencur, kunyit, laos, dan temu lawak. Tak banyak memang, tetapi cukup membantu ekonomi masyarakat,” ujar Marlianto.

Para pelaku usaha juga banyak mempertimbangkan potensi berbisnis di Muara Wahau. Mengingat jumlah penduduk yang terus meningkat, tak pelak pemenuhan berbagai macam kebutuhan turut tergeret naik.

Ramli (19) penjual nasi goreng keliling di SP 3. Perantauan asal Kayong Utara, Kalimantan Barat mengaku baru satu tahun merantau ke Muara Wahau. Semula di daerah asal ia jadi kuli angkut, kini ia sudah berani usaha kuliner.

“Sehari bisa habis 5 – 12 Kg. Kalau awal bulan begini seperti sekarang tembus 15 Kg, harga seporsi Rp.18.000. Muara Wahau bagi saya adalah tempat tinggal yang menyenangkan, keadaan ekonomi saya berubah drastis,” ucapnya bersyukur. (ADV-KOMINFO/Imr/Wal)