Asrullah: Kopi Berkualitas, Harga Terjangkau Semua Orang
oleh

Bertahan Dipinggiran Jalan! Tambah Persahabatan Dengan Secangkir Kopi

-Ekonomi, Kaltim-Dibaca : 323 Kali

WARTAKUTIM.CO.ID – Laju bisnis kopi pada beberapa tahun terakhir begitu kencang melanda seluruh Indonesia, baik di kota-kota besar hingga kabupaten yang tidak memiliki tradisi minum kopi yang kuat secara antropologis. Untuk perihal terakhir, pembaca dapat melihat keberadaan Warung Kopi (Warkop) Street Coffee yang terletak di Simpang Empat Patung Singa, Sangatta Utara.

Pedagang Kaki Lima (PKL), begitulah Asrullah Owner Street Coffee Coffee mengidentifikasikan dirinya. Memulai pada tahun 2015 lalu, Asrul termasuk pionir dalam memperkenalkan tradisi minum kopi non sachetan pada masyarakat, di Kabupaten yang terkenal sebagai pengahasil batu-bara terbesar di Indonesia.

“Sangatta itu jauh dari “Peradaban“, tradisi minum kopi. Mulanya ada beberapa warung kopi yang digemari, dengan mengetengahkan konsep kopi tradisional dan sachetan. Dan jarang sekali orang mengetahu soal minum kopi, dari biji kopi hasil roasting yang digiling dan disajikan dalam aneka macam sajian. Bahkan dalam benak banyak orang, minum kopi berkualitas itu bisa dinikmati di mall-mall atau Ibukota Jakarta saja,” ungkapnya.

Terlebih lagi, orang-orang sudah terbiasa dengan kopi-kopi sachetan mainstream. Maka bagaimana mengenalkan tradisi minum kopi dari biji berkualitas, hasil panen petani lokal dari berbagai daerah di nusantara. Menjadi tantangan luar biasa untuk pemilik Warkop, yang daerahnya tidak memiliki tradisi minum kopi yang kuat. Cara paling aman merubah mindset dan mental masyarakat, ialah menghadirkan penyajian kopi tradisional yang menyisipkan biji kopi pilihan. Sehingga aman dalam soal rasa alias lidah dan perut penikmat kopi. “Sehingga pelan-pelan edukasinya masuk, dengan meningkatkan kualitas olahan dan mengenalkan perbedaan varian-varian biji kopi pada masyarakat,” jelas pria yang humoris ini.

Mengakali Modal dan Membebaskan Diri Dari Permainan Pasar Biji Kopi

Tantangan tidak saja soal edukasi pada masyarakat, tetapi bagaimana caranya untuk mendapatkan beans coffee atau biji kopi berkualitas, dengan harga miring menjadi kunci. Agar pengusaha kecil sepertinya tidak terlibas oleh persaingan usaha yang makin tinggi serta pergerakan masif pengusaha bermodal kuat.

Terkait pasokan biji kopi, awalnya Asrul amat bergantung dengan para reseller yang bertebaran di aplikasi-aplikasi jual beli online. Bahkan sempat pula terjebak dengan pola hutang dengan membeli biji kopi dari reseller tangan ketiga, yakni penjual lokal yang membeli dari penjual lainnya di Indonesia lalu dijual dengan harga berlipat padanya. Pola seperti inilah yang dirasakan Owner Street Coffee Sangatta, amat membebani pengusaha keci menengah.

“Mau tidak mau pengusaha kecil pasti akan terjebak pada pola penjualan dan distribusi seperti itu, untuk itulah diperlukan penguatan jejaring hingga mendapatkan biji kopi dari petani langsung. Caranya? Dengan masuk ke komunitas-komunitas pemilik kedai atau warung kopi sejenis, disana kita akan dapat bertemu dengan pemilik kebun kopi. Agar dapat memutus mata rantai penjualan yang cukup panjang dan berbiaya besar,” jelasnya.

Keuntungannya jelas sekali bagi pemilik warung kopi, yakni saat mendapatkan komunikasi langsung dengan petani asal daerah penghasil varietas kopi unggul. Maka jalan terbuka untuk mendapatkan biji kopi lebih murah, karena tidak melewati beberapa pihak alias reseller. Jika pesan secara online melalui reseller, untuk 1 kilogram biji kopi seharga Rp. 100 ribu misalnya. Maka pemilik Warkop hanya mendapatkan 800 gram biji kopi, sisanya sebesar 200 gram jatah bungkus kemasan packing produk dan packing kiriman. Sudah kelihatan bagaimana persoalan harga dan pola reseller dalam berbisnis?

Hal tersebut sah-sah saja dilakukan dalam pola bisnis seperti ini. Namun dalam mengiatkan dan menyemarakkan bisnis perkopian di Indonesia, agar dapat dinikmati penikmat kopi berkantung tipis, pola hulu dan hilir ini harus diakali. Mengingat bisni kopi sedang manis-manisnya, walaupun rasa dasar kopi tetap pahit keasam-asaman atau pahit dengan rasa manis yang tipis. Maka para pemula harus bergiat membebaskan diri dari ketergantungan pada satu reseller atau pemasok. Karena bagaimanapun Indonesia adalah negara penghasil kopi bukan pengimpor kopi, tentu ada peluang untuk tetap mengedukasi masyarakat sembari berbisnis.

Sebagai pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM), Asrul menyadari pertukaran informasi dalam usaha perkopian dari hulu hingga hilir memiliki dinamika tersendiri. Mengingat usaha ini terpusat pada daerah-daerah penghasil komoditi perkebunan kopi di Nusantara. Komoditi kopi tidak bisa disamakan dengan komoditi pangan seperti beras, dimana konsumen dengan mudah mendapatkan toko penjual, sekaligus dapat mengkomparasikan harga jual antara toko satu dengan toko yang lain.

Berbeda dengan beras, komoditi kopi dari hulu hingga hilir memiliki pintu-pintu batasan tersendiri. Ambil contoh si Akbar peminum kopi, tentu ia akan berproses menikmati berbagai kopi diberbagai warung kopi hingga cafe. Seiring waktu ia akan dapat memilah-milah, mana wadah yang tepat untuk dirinya menikmati waktu ngopi di pagi, siang, sore, hingga malam hari. Begitu pula pola yang dilakukan warung kopi untuk mendapatkan reseller maupun petani pemilik kebun kopi, dimulai dengan cara yang sama, semua berproses.

“Intinya bisnis kopi ini merakyat! Soal mendapatkan biji-biji kopi dengan varietas yang beragam serta unggul, tentu prosesnya juga tidak mudah dilakukan. Namun ditengah dinamika bisnis kopi, untuk soal kirim-mengirim barang pesanan baik dari Indonesia maupun Luar Negeri. Saya tetap menggunakan jasa ekspedisi yang handal, terkemuka, dan dipercaya untuk masyarakat di seluruh Indonesia. Serta mensejahterakan masyarakat kurang mampu, tentu kita pasti mengetahui perusahaan ekspedisi tersebut,” ungkap Asrul sembari mengedipkan mata dan mengajak penulis menikmati secangkir kopi Robusta Temanggung. (Wars)

News Feed